Tren Quiet Luxury Mulai Redup, Gen Z Beralih ke Gaya Ini
baliutama – Setelah mendominasi linimasa media sosial selama beberapa tahun terakhir dengan estetika old money dan quiet luxury—yang mengedepankan kemewahan minimalis tanpa logo—tampaknya dunia mode mulai merasakan kejenuhan. Gen Z, sebagai garda terdepan penentu tren, kini mulai menggeser haluan.
Jika quiet luxury adalah tentang “berbaur dengan aristokrat”, tren yang sedang naik daun ini justru merayakan ekspresi diri yang lebih berani, otentik, dan terkadang sedikit “kacau”.
Mengapa Quiet Luxury Mulai Kehilangan Tajinya?
Ada perasaan bahwa quiet luxury terlalu homogen dan membatasi kreativitas. Gen Z merasa tren ini terlalu kaku, mahal, dan sering kali terasa membosankan. Dalam upaya untuk mencari identitas yang lebih nyata, mereka mulai meninggalkan palet warna netral (beige, putih, hitam) dan kembali merangkul gaya yang lebih personal.
Gaya Baru yang Mulai Mengambil Alih: Eclectic Grandpacore dan Chaos Core
Gen Z kini mulai beralih ke gaya yang lebih kontras, bertekstur, dan penuh karakter:
1. Eclectic Grandpacore
Ini adalah antitesis dari minimalisme. Bayangkan gaya kakek-kakek yang modis: kardigan rajut tebal dengan motif unik, loafers yang dipadukan dengan kaus kaki, celana corduroy, dan topi flat cap. Kuncinya adalah mencampur dan mencocokkan (mix and match) barang-barang vintage atau thrifted dengan sentuhan modern yang tidak terduga.
2. Corporate Chic dengan Sentuhan Edgy
Alih-alih tampil preppy seperti di serial Gossip Girl, Gen Z kini mengadopsi gaya kantoran 90-an dengan siluet yang lebih longgar (oversized). Blazer kaku dipadukan dengan aksesori yang berani, dasi, atau sepatu chunky boots. Ini adalah cara mereka menunjukkan bahwa profesionalisme tidak harus membosankan.
3. Maximalist Nostalgia (Y2K dan 90s)
Quiet luxury yang serba rapi mulai digantikan oleh ledakan warna, material transparan, dan aksesori yang menumpuk. Tren ini menghargai keberanian untuk tampil mencolok. Mereka tidak lagi takut memakai banyak logo atau warna-warna neon yang saling bertabrakan.
Mengapa Pergeseran Ini Terjadi?
- Pencarian Identitas: Gen Z lebih menghargai “kreativitas dalam keterbatasan”. Mereka lebih suka mencari barang unik di toko barang bekas (thrift) daripada membeli barang bermerek mahal yang seragam.
- Reaksi terhadap Ekonomi: Mengikuti tren quiet luxury yang menuntut barang-barang bermerek asli (dan sangat mahal) tidaklah berkelanjutan bagi banyak orang. Gaya baru yang lebih eklektik memungkinkan seseorang tetap tampil gaya dengan anggaran terbatas.
- Keinginan untuk Berbeda: Di era media sosial, terlihat “berbeda” dan memiliki ciri khas adalah mata uang sosial yang lebih tinggi daripada sekadar terlihat “kaya”.
Kesimpulan: Tren Bukan Lagi tentang Harga
Pergeseran dari quiet luxury ke gaya yang lebih ekspresif menandakan bahwa tren mode saat ini sedang bergerak menuju otentisitas. Bagi Gen Z, gaya bukan lagi tentang seberapa mahal pakaian yang dipakai atau seberapa “tenang” kemewahan yang dipancarkan, melainkan tentang bagaimana pakaian tersebut menceritakan kepribadian unik si pemakainya.

