Anak Muda Bali Antusias Rayakan Tumpek Klurut Bersama Gubernur Koster
Perayaan Rahina Tumpek Klurut tahun ini menghadirkan suasana yang berbeda di sejumlah titik di Bali. Anak-anak muda atau yowana tampak antusias berkumpul, menikmati kopi, berbincang santai, dan merasakan kebersamaan yang hangat. Momentum ini semakin istimewa karena Gubernur Bali Wayan Koster turun langsung ke ruang publik dan mentraktir kopi serta kuliner khas Bali sebagai bentuk perayaan Hari Tresna Asih menurut kearifan lokal Bali.
Tumpek Klurut bukan sekadar hari raya biasa. Dalam tradisi Bali, hari ini dimaknai sebagai momentum menumbuhkan rasa cinta kasih, keharmonisan, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai tersebut diterjemahkan Gubernur Koster secara kontekstual, menyatu dengan gaya hidup masyarakat modern, khususnya generasi muda.
Tumpek Klurut, Hari Kasih Sayang Versi Bali
Tumpek Klurut dikenal sebagai Hari Tresna Asih, hari untuk memuliakan rasa cinta dan keindahan. Berbeda dengan perayaan kasih sayang yang bersifat komersial, Tumpek Klurut berakar kuat pada nilai spiritual dan budaya Bali. Maknanya tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga terhadap seni, alam, dan kehidupan itu sendiri.
Dalam perayaan ini, masyarakat Bali diajak untuk kembali pada esensi kebersamaan, saling menghargai, dan membangun hubungan yang harmonis. Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis.
Kopi Gratis di Ruang Publik, Anak Muda Padati Coffee Shop
Pada Sabtu pagi, sejumlah coffee shop di Denpasar seperti Jenar Coffee dan Tan Panama Coffee Shop dipadati pengunjung. Ribuan cup kopi dibagikan secara gratis, menciptakan suasana akrab dan penuh kehangatan. Anak-anak muda tampak menikmati momen tersebut sambil berbincang, tertawa, dan berfoto bersama.
Gubernur Koster hadir langsung di tengah keramaian. Ia bercengkrama santai dengan para pengunjung, mendengarkan cerita, serta melayani permintaan foto bersama tanpa jarak. Kehadiran pemimpin daerah di ruang publik ini memberi kesan tersendiri bagi generasi muda Bali, bahwa pemerintah hadir dan dekat dengan masyarakatnya.
Be Guling sebagai Simbol Dukungan UMKM Lokal
Tak hanya kopi, perayaan Tumpek Klurut juga diramaikan dengan traktiran be guling di Warung Men Wenci, kawasan Sangeh, Kabupaten Badung. Sejak pagi, warung tersebut dipadati masyarakat. Dua ekor be guling ludes dalam waktu singkat, menunjukkan tingginya antusiasme warga.
Kuliner khas Bali ini bukan sekadar hidangan, tetapi juga simbol dukungan terhadap pelaku UMKM lokal. Dengan melibatkan usaha kecil dan menengah, perayaan Tumpek Klurut memberi dampak ekonomi langsung sekaligus memperkuat ekosistem usaha rakyat.
Makna Niskala dan Sekala dalam Perayaan Tumpek Klurut
Gubernur Koster menjelaskan bahwa perayaan Tumpek Klurut dilaksanakan secara niskala lan sekala. Secara niskala, rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan yang dipusatkan di Pura Candi Narmada. Ritual ini menjadi fondasi spiritual untuk memohon keharmonisan dan keseimbangan.
Sementara secara sekala, nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui interaksi langsung dengan masyarakat. Coffee shop, warung makan, dan ruang publik menjadi tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat, terutama anak muda, dalam suasana yang cair dan egaliter.
Anak Muda Merespons Positif
Antusiasme yowana terlihat jelas dari respons para pengunjung. Prama, salah seorang anak muda asal Denpasar, mengaku senang bisa merasakan suasana kebersamaan tersebut.
“Sekalian weekend, terus ditraktir Pak Gubernur. Awal tahun sudah dapat momen seperti ini, rasanya hangat dan berkesan,” ujarnya dengan senyum.
Bagi generasi muda, momen seperti ini bukan hanya soal kopi atau makanan gratis, tetapi tentang pengalaman kebersamaan, kedekatan dengan pemimpin daerah, serta kebanggaan terhadap budaya lokal.
UMKM dan Generasi Muda sebagai Penjaga Budaya Bali
Dalam keterangannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa UMKM lokal memiliki peran strategis dalam menjaga budaya Bali. Coffee shop dan usaha kuliner kini menjadi ruang kreativitas generasi muda, tempat lahirnya ide-ide baru tanpa meninggalkan akar budaya.
Momentum Tumpek Klurut dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas, kebersamaan, dan rasa tresna asih di tengah masyarakat. Nilai-nilai leluhur tidak dibiarkan berhenti sebagai simbol, tetapi dihidupkan dalam praktik nyata yang relevan dengan zaman.
Budaya Lokal Tetap Relevan di Era Modern
Perayaan Tumpek Klurut tahun ini menjadi contoh bagaimana kearifan lokal Bali dapat dimaknai secara kontekstual. Tradisi tidak harus kaku atau terjebak pada seremoni formal, tetapi bisa hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Dengan pendekatan seperti ini, budaya Bali tetap hidup, dinamis, dan diterima oleh generasi muda. Identitas dan karakter krama Bali pun terus terjaga sebagai warisan leluhur yang relevan lintas generasi.
Hiburan Musik sebagai Penutup Kebersamaan
Tak berhenti pada siang hari, rangkaian perayaan Tumpek Klurut ditutup dengan hiburan pentas musik di Panggung Terbuka Ardha Candra, Art Center Denpasar. Acara ini terbuka untuk masyarakat luas dan digelar mulai sore hingga malam hari.
Musik dikemas dengan nuansa tenang, damai, dan becik, agar masyarakat dapat menikmati kebersamaan dengan nyaman. Hiburan ini menjadi pelengkap yang menyempurnakan makna Tumpek Klurut sebagai hari kasih sayang dan keharmonisan.
Merawat Tresna Asih untuk Bali ke Depan
Melalui perayaan sederhana namun bermakna ini, Gubernur Koster menegaskan pentingnya merawat nilai tresna asih dalam kehidupan bermasyarakat. Interaksi hangat, dukungan terhadap UMKM, serta keterlibatan generasi muda menjadi fondasi kuat untuk membangun Bali yang berkarakter.
Tumpek Klurut tahun ini tidak hanya meninggalkan kenangan manis bagi anak muda Bali, tetapi juga pesan penting bahwa budaya, kebersamaan, dan kepedulian sosial adalah kekuatan utama dalam menjaga jati diri Bali di tengah arus modernisasi.
Baca Juga : Bandara Ngurah Rai Layani 1,4 Juta Penumpang Saat Nataru
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabumi

