Prof Sutriyanti Gagas Ekoetika Hindu untuk Pendidikan Karakter
Pengukuhan Guru Besar di UHN I Gusti Bagus Sugriwa
Prof. Dr. Ni Komang Sutriyanti, S.Ag., M.Pd.H resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Etika Hindu di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Pengukuhan ini menjadi momentum penting bagi pengembangan keilmuan pendidikan Hindu, khususnya yang berkaitan dengan pembentukan karakter generasi muda.
Dalam prosesi akademik tersebut, Prof Sutriyanti tidak hanya menyampaikan capaian keilmuannya, tetapi juga memperkenalkan sebuah gagasan konseptual baru yang disebut Ekoetika Hindu. Konsep ini dirancang sebagai pendekatan pendidikan etika berbasis ekologi yang relevan dengan tantangan zaman.
Krisis Ekologis sebagai Persoalan Etika
Dalam orasi ilmiahnya, Ni Komang Sutriyanti menegaskan bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini tidak bisa dipahami semata-mata sebagai persoalan teknis, ekonomi, atau material. Menurutnya, akar persoalan lingkungan justru terletak pada krisis etika, moral, dan karakter manusia.
Eksploitasi alam yang berlebihan, pencemaran lingkungan, serta kerusakan ekosistem menunjukkan lemahnya relasi etis manusia dengan alam. Karena itu, pendekatan pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan tersebut.
Ekoetika Hindu sebagai Pendekatan Pendidikan
Konsep Ekoetika Hindu yang digagas Prof Sutriyanti memandang alam sebagai bagian sakral dari kehidupan manusia. Alam tidak dilihat sebagai objek yang bebas dieksploitasi, melainkan sebagai mitra hidup yang memiliki nilai spiritual dan moral.
Dalam perspektif Hindu, nilai-nilai seperti Tri Hita Karana dan Bhuta Yadnya menjadi landasan penting dalam membangun hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Prof Sutriyanti menekankan bahwa nilai-nilai ini perlu diinternalisasikan secara sistematis melalui proses pendidikan formal.
Peran Strategis Pendidikan Sekolah Dasar
Prof Sutriyanti menyoroti sekolah dasar sebagai fase paling krusial dalam pembentukan karakter anak. Pada tahap ini, kebiasaan, pola pikir, dan sikap hidup mulai terbentuk dan cenderung menetap hingga dewasa.
Melalui pendidikan etika berbasis ekologi Hindu, siswa tidak hanya diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan secara konseptual. Mereka juga dibimbing untuk membangun relasi emosional dan etis dengan alam, sehingga kepedulian lingkungan tumbuh dari kesadaran internal, bukan sekadar kewajiban.
Integrasi Nilai Lokal dalam Pendidikan Karakter
Ekoetika Hindu juga menempatkan kearifan lokal sebagai sumber nilai pendidikan. Nilai-nilai yang hidup dalam tradisi dan praktik keagamaan Hindu dipandang relevan untuk menjawab tantangan global, termasuk isu perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Dengan mengintegrasikan ajaran agama dan budaya lokal ke dalam kurikulum, pendidikan karakter menjadi lebih kontekstual dan bermakna. Anak-anak tidak hanya belajar teori, tetapi juga meneladani praktik hidup harmonis yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Kontribusi Keilmuan di Era Modern
Gagasan Ekoetika Hindu disebut sebagai kontribusi keilmuan baru dalam bidang pendidikan karakter. Di tengah era modern yang ditandai dengan percepatan teknologi dan perubahan gaya hidup, pendekatan ini menawarkan perspektif alternatif yang menekankan keseimbangan dan keberlanjutan.
Prof Sutriyanti menilai bahwa pendidikan karakter tidak bisa dilepaskan dari konteks ekologis. Tanpa kesadaran lingkungan, pembentukan karakter berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi abai terhadap dampak tindakannya terhadap alam.
Menjawab Tantangan Perubahan Perilaku
Isu lingkungan saat ini menuntut perubahan perilaku yang nyata, bukan sekadar wacana. Melalui Ekoetika Hindu, pendidikan diarahkan untuk membentuk sikap hidup yang bertanggung jawab, berempati, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Anak-anak diharapkan tumbuh dengan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari kewajiban moral dan spiritual. Dengan demikian, perilaku ramah lingkungan tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai ekspresi nilai etis yang melekat dalam diri.
Menuju Harmonisasi Kehidupan dan Lingkungan
Konsep Ekoetika Hindu yang digagas Prof Sutriyanti diharapkan mampu memperkuat karakter generasi muda agar selaras dengan prinsip harmonisasi kehidupan. Pendidikan tidak hanya menghasilkan individu yang berprestasi, tetapi juga manusia yang memiliki kepedulian terhadap alam dan sesama.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini diyakini dapat berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan melalui jalur pendidikan karakter. Dengan menanamkan kesadaran ekologis sejak dini, Ekoetika Hindu menjadi salah satu tawaran solusi untuk membangun masa depan yang berkelanjutan dan beretika.
Baca Juga : 10 Kali Juara Umum Porprov Bali, Adi Arnawa Ingatkan KONI Badung
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : faktagosip

