Persoalan Lingkungan Bali Butuh Solusi Nyata dan Terukur
Persoalan lingkungan hidup di Bali semakin hari kian menjadi sorotan publik. Pulau yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata dunia kini menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan, pariwisata, dan kelestarian lingkungan. Dua isu utama yang terus mencuat adalah persoalan pengelolaan sampah dan alih fungsi lahan pertanian, khususnya sistem subak yang menjadi identitas Bali.
Sorotan publik yang semakin tajam sejatinya mencerminkan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Namun, kepedulian tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sistem tata kelola yang kuat dan merata. Akibatnya, berbagai kebijakan lingkungan yang bertujuan baik justru memunculkan kontroversi di lapangan.
Sampah Bali dan Tantangan Tata Kelola
Persoalan sampah di Bali menjadi isu paling nyata yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Volume sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas pariwisata menuntut sistem pengelolaan yang terintegrasi. Sayangnya, kesiapan infrastruktur dan tata kelola sampah di banyak wilayah belum sepenuhnya memadai.
Penutupan TPA Suwung menjadi salah satu kebijakan yang menuai kontroversi. Dari sisi prinsip lingkungan, kebijakan ini sejatinya merupakan langkah progresif untuk menghentikan praktik open dumping yang telah lama menimbulkan dampak pencemaran. Namun, di sisi lain, masyarakat dihadapkan pada kebingungan baru, yakni ke mana sampah harus dibuang setelah TPA tersebut tidak lagi beroperasi optimal.
Tidak semua desa dan kelurahan di Bali memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), TPS3R, bank sampah, maupun fasilitas pengomposan sampah organik. Kondisi ini membuat beban pengelolaan sampah sering kali jatuh langsung kepada masyarakat tanpa dukungan sistem yang memadai.
Kebutuhan Solusi untuk Sampah Residu
Salah satu persoalan paling krusial dalam pengelolaan sampah Bali adalah sampah residu. Jenis sampah ini tidak memiliki nilai jual dan sulit diolah dengan pendekatan konvensional. Tanpa solusi pemrosesan yang jelas, sampah residu berpotensi menumpuk dan kembali mencemari lingkungan.
Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ini. Pengolahan sampah residu membutuhkan teknologi dan kebijakan yang terencana, mulai dari pengurangan di sumber, pemilahan yang konsisten, hingga pengolahan akhir yang ramah lingkungan.
Tanpa sistem pemrosesan residu yang jelas, kebijakan penutupan TPA justru berisiko memindahkan masalah dari satu titik ke titik lain. Dalam konteks ini, solusi jangka panjang harus dirancang secara menyeluruh, bukan parsial.
Peran Masyarakat dan Kesiapan Infrastruktur
Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap isu sampah merupakan modal sosial yang penting. Banyak komunitas dan warga telah mulai memilah sampah secara mandiri. Namun, upaya ini tidak akan maksimal tanpa dukungan infrastruktur yang merata.
Pemerintah memiliki peran strategis untuk memastikan setiap desa memiliki akses terhadap fasilitas pengelolaan sampah. Pendekatan berbasis desa dinilai lebih efektif karena sampah dapat dikelola sedekat mungkin dengan sumbernya.
Selain infrastruktur, edukasi berkelanjutan juga menjadi kunci. Masyarakat perlu didampingi agar praktik pengelolaan sampah tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi kebiasaan jangka panjang.
Alih Fungsi Lahan Subak yang Mengkhawatirkan
Selain sampah, persoalan lingkungan Bali juga ditandai oleh alih fungsi lahan pertanian, khususnya lahan subak. Berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional, selama periode 2019 hingga 2024, Bali kehilangan sekitar 6.521 hektar lahan subak. Angka ini setara dengan sekitar 9,19 persen dari total luas lahan pertanian yang ada.
Pada tahun 2019, luas lahan persawahan di Bali masih berada di kisaran 72 ribu hektar. Kini, luas tersebut menyusut menjadi sekitar 66 ribu hektar dan berpotensi terus berkurang setiap tahunnya. Penurunan ini menjadi sinyal serius bagi keberlanjutan sistem pangan dan budaya Bali.
Alih fungsi lahan umumnya didorong oleh tekanan ekonomi, pembangunan pariwisata, serta kebutuhan perumahan. Tanpa regulasi yang tegas dan pengawasan yang konsisten, laju konversi lahan dikhawatirkan semakin sulit dikendalikan.
Dampak Lingkungan dan Sosial Jangka Panjang
Berkurangnya lahan subak tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga pada ekosistem dan identitas budaya Bali. Subak bukan sekadar sistem irigasi, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai sosial, spiritual, dan ekologis.
Hilangnya lahan subak berpotensi mengganggu keseimbangan air, meningkatkan risiko banjir, serta mengurangi daya dukung lingkungan. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi ketahanan pangan lokal dan keberlanjutan pariwisata Bali yang bergantung pada lanskap alam.
Dari sisi sosial, alih fungsi lahan juga berpotensi meminggirkan petani dan mengubah struktur ekonomi desa. Tanpa kebijakan perlindungan yang jelas, petani berada pada posisi yang rentan menghadapi tekanan pasar dan pembangunan.
Kebutuhan Kebijakan yang Terintegrasi
Persoalan sampah dan alih fungsi lahan di Bali menunjukkan bahwa masalah lingkungan tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan sektoral. Diperlukan kebijakan yang terintegrasi antara tata ruang, lingkungan hidup, pariwisata, dan pembangunan ekonomi.
Pemerintah Provinsi Bali perlu memastikan bahwa setiap kebijakan lingkungan disertai peta jalan yang jelas. Penutupan TPA, misalnya, harus diiringi dengan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah di tingkat desa dan kabupaten.
Demikian pula dengan perlindungan lahan subak. Insentif bagi petani, penegakan aturan tata ruang, serta pembatasan alih fungsi lahan harus dijalankan secara konsisten agar tidak hanya berhenti pada wacana.
Penutup: Dari Sorotan Menuju Aksi Nyata
Sorotan terhadap persoalan lingkungan hidup di Bali sejatinya merupakan peluang untuk melakukan pembenahan. Kepedulian masyarakat yang meningkat perlu dijawab dengan kebijakan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Bali membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar respons reaktif terhadap krisis. Pengelolaan sampah yang terintegrasi dan perlindungan lahan subak harus menjadi prioritas bersama. Tanpa langkah tegas dan kolaboratif, tantangan lingkungan ini berpotensi menggerus kualitas hidup masyarakat serta daya tarik Bali di mata dunia.
Keberhasilan menjaga lingkungan Bali akan sangat ditentukan oleh keberanian mengambil keputusan, konsistensi pelaksanaan kebijakan, dan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
Baca Juga : BBMKG Keluarkan Peringatan Gelombang Tinggi Bali
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : lagupopuler

