MUI Bali: Nyepi dan Idul Fitri Momentum Istimewa Toleransi

baliutama – Majelis Ulama Indonesia atau MUI wilayah Bali menyatakan bahwa momentum pelaksanaan hari raya Nyepi yang berdekatan dengan perayaan Idul Fitri merupakan saat yang sangat istimewa untuk memperkuat tali persaudaraan dan toleransi antarumat beragama. Pertemuan dua hari besar ini dianggap sebagai ujian sekaligus bukti nyata bahwa kerukunan di Bali tetap terjaga dengan baik meskipun masyarakatnya menjalankan ibadah yang berbeda secara bersamaan. MUI mengajak seluruh umat Islam untuk menghormati kesucian hari raya Nyepi sebagai bentuk nyata dari nilai moderasi beragama.
Ada beberapa poin utama yang ditekankan oleh MUI Bali dalam menyambut momentum istimewa ini sebagai perwujudan toleransi yang harmonis:
- Menjaga Ketenangan Selama Nyepi: Umat Islam diimbau untuk menjalankan ibadah, termasuk salat berjamaah di masjid, dengan tetap menghormati aturan Nyepi seperti tidak menggunakan pengeras suara luar dan meminimalkan mobilitas di jalan raya.
- Semangat Saling Menghargai: Momentum ini dipandang sebagai kesempatan bagi setiap pemeluk agama untuk saling memahami tradisi satu sama lain, di mana umat Hindu melaksanakan brata penyepian dan umat Islam menjalankan ibadah puasa serta persiapan lebaran.
- Koordinasi dengan Pihak Terkait: MUI terus menjalin komunikasi dengan tokoh adat dan pihak keamanan guna memastikan seluruh rangkaian ibadah kedua agama dapat berjalan lancar tanpa adanya gesekan atau kesalahpahaman di lapangan.
- Mempererat Silaturahmi Lintas Agama: Perayaan yang beriringan ini diharapkan dapat meningkatkan rasa empati dan solidaritas sosial melalui kegiatan berbagi atau sekadar saling memberikan ucapan selamat yang menyejukkan.
Langkah-langkah preventif dan edukatif ini dilakukan agar suasana di Bali tetap kondusif, aman, dan damai. Keberhasilan masyarakat Bali dalam mengelola perbedaan saat hari raya besar berlangsung seringkali menjadi percontohan bagi wilayah lain di Indonesia bahkan dunia. MUI berharap semangat toleransi ini tidak hanya muncul saat hari raya saja, tetapi menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kedamaian di pulau dewata tetap lestari di tengah keberagaman yang ada.
