Gelar Adat Bali untuk Tokoh Ormas, Simbol Kebhinekaan
baliutama.web.id Pemberian gelar kehormatan adat Bali kepada tokoh nasional kembali menjadi simbol kuat kebhinekaan dan persatuan bangsa. Kali ini, dua pimpinan Dewan Pimpinan Pusat Setya Kita Pancasila Indonesia menerima penghargaan adat sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi mereka dalam menjaga nilai-nilai persatuan dan kebangsaan.
Ketua Umum Andreas Sumual dan Sekretaris Jenderal Meyske Yunita dinobatkan sebagai Anggota Kehormatan Manggala Taksu Agung sekaligus Warga Adat Bali. Penganugerahan ini tidak hanya bermakna simbolis, tetapi juga merepresentasikan penghormatan masyarakat adat Bali terhadap figur-figur yang dinilai memiliki komitmen kuat terhadap nilai kebhinekaan.
Makna Gelar Kehormatan dalam Tradisi Bali
Dalam tradisi Bali, pemberian gelar adat bukanlah hal yang diberikan secara sembarangan. Gelar tersebut merupakan bentuk penghargaan tertinggi yang sarat makna filosofis dan spiritual. Penerima gelar dianggap memiliki keselarasan nilai dengan prinsip kehidupan masyarakat adat Bali, seperti harmoni, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Gelar Anggota Kehormatan Manggala Taksu Agung mencerminkan pengakuan terhadap peran seseorang dalam menjaga energi positif dan wibawa moral di tengah masyarakat. Sementara status sebagai Warga Adat Bali menunjukkan penerimaan secara kultural, melampaui batas suku, agama, maupun latar belakang sosial.
Kebhinekaan sebagai Nilai Bersama
Penganugerahan gelar adat kepada pimpinan ormas nasional ini dipandang sebagai wujud nyata kebhinekaan Indonesia. Bali, sebagai daerah dengan kekayaan tradisi dan budaya yang kuat, menunjukkan keterbukaannya terhadap tokoh-tokoh dari latar belakang berbeda yang memiliki visi sejalan dalam menjaga persatuan bangsa.
Nilai kebhinekaan tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret seperti penghormatan lintas budaya. Momentum ini menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah kekuatan utama bangsa Indonesia, bukan penghalang untuk bersatu.
Peran Ormas dalam Menjaga Persatuan
Sebagai organisasi kemasyarakatan, Setya Kita Pancasila Indonesia dikenal aktif dalam mendorong penguatan nilai Pancasila, toleransi, dan persatuan nasional. Kiprah ormas ini dinilai sejalan dengan semangat masyarakat adat Bali yang menjunjung tinggi harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemberian gelar kehormatan ini sekaligus menjadi pengakuan atas peran strategis ormas dalam menjaga kohesi sosial di tengah dinamika kebangsaan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ormas memiliki posisi penting sebagai jembatan dialog dan perekat antar kelompok masyarakat.
Simbol Persaudaraan Lintas Budaya
Pengangkatan Andreas Sumual dan Meyske Yunita sebagai Warga Adat Bali mencerminkan persaudaraan lintas budaya yang semakin menguat. Masyarakat adat Bali menunjukkan bahwa identitas budaya tidak bersifat eksklusif, melainkan inklusif dan terbuka bagi siapa pun yang menghormati nilai-nilai lokal.
Hal ini sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali, yakni keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Penerapan filosofi ini dalam kehidupan berbangsa memperkuat pesan bahwa harmoni dapat terwujud di tengah perbedaan.
Pesan Persatuan bagi Generasi Muda
Penganugerahan gelar adat ini juga mengandung pesan penting bagi generasi muda Indonesia. Di tengah arus globalisasi dan tantangan identitas, nilai-nilai kebhinekaan dan persatuan perlu terus dirawat. Penghormatan lintas budaya menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan dapat dirangkul sebagai kekayaan bersama.
Generasi muda diharapkan dapat meneladani semangat saling menghormati dan keterbukaan yang ditunjukkan dalam peristiwa ini. Dengan memahami dan menghargai budaya lain, rasa kebangsaan akan tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.
Bali sebagai Simbol Toleransi Nasional
Bali kerap dipandang sebagai simbol toleransi dan harmoni budaya di Indonesia. Pemberian gelar kehormatan kepada tokoh nasional dari luar komunitas adat Bali mempertegas citra tersebut. Bali tidak hanya menjaga tradisinya, tetapi juga menjadikannya sebagai sarana memperkuat persatuan nasional.
Langkah ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat berperan aktif dalam membangun identitas nasional yang inklusif. Ketika nilai-nilai lokal dipadukan dengan semangat kebangsaan, maka persatuan Indonesia akan semakin kokoh.
Harapan ke Depan
Penganugerahan gelar kehormatan adat Bali kepada pimpinan Setya Kita Pancasila Indonesia diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengedepankan dialog dan penghormatan lintas budaya. Pengakuan semacam ini dapat menjadi jembatan untuk memperkuat solidaritas nasional di tengah keberagaman.
Dengan semangat kebhinekaan yang terus dirawat, Indonesia diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan sosial dengan lebih bijaksana. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa persatuan dapat tumbuh dari saling menghormati, memahami, dan merayakan perbedaan.

Cek Juga Artikel Dari Platform festajunina.site
