Bali Imbau Tanpa Kembang Api Demi Kesederhanaan Tahun Baru
baliutama.web.id Pemerintah Provinsi Bali mengambil langkah berbeda dalam menyambut perayaan pergantian tahun. Alih-alih kemeriahan dengan dentuman kembang api seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah daerah justru mengimbau warga maupun wisatawan untuk merayakan Tahun Baru secara lebih sederhana dan berempati. Kebijakan ini menandai perubahan pendekatan perayaan di Pulau Dewata yang selama ini dikenal dengan pesta cahaya di berbagai titik wisata.
Imbauan tersebut disampaikan oleh Pemerintah Provinsi Bali sebagai bentuk kepekaan sosial atas bencana besar yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh. Pemerintah menilai perayaan berlebihan kurang pantas dilakukan di tengah kondisi duka yang masih dirasakan sebagian masyarakat Indonesia.
Perayaan Tahun Baru Bali Tanpa Kembang Api
Selama ini, malam Tahun Baru di Bali identik dengan pesta kembang api di pantai, hotel, dan berbagai daya tarik wisata. Cahaya warna-warni yang menghiasi langit menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun kali ini, suasana tersebut diminta untuk ditiadakan.
Pemprov Bali secara tegas mengimbau agar warga, wisatawan, serta pengelola destinasi wisata tidak menyalakan kembang api. Larangan ini berlaku merata, termasuk di kawasan hotel, pantai, dan destinasi wisata unggulan. Pemerintah berharap imbauan ini dipatuhi demi menjaga ketertiban, kesederhanaan, dan nilai empati sosial.
Pengelola Destinasi Wisata Diminta Patuh
Tidak hanya masyarakat umum, pengelola daya tarik wisata juga diminta mengikuti kebijakan tersebut. Sejumlah pengelola mengaku telah menerima arahan resmi agar tidak menggelar pesta kembang api pada malam pergantian tahun.
Salah satunya adalah pengelola Tanah Lot, salah satu ikon wisata budaya Bali yang terkenal hingga mancanegara. Kawasan ini biasanya menjadi salah satu titik favorit wisatawan untuk menyaksikan perayaan malam Tahun Baru.
Tanah Lot Pilih Perayaan Tanpa Kembang Api
Asisten Manager DTW Tanah Lot, I Putu Toni Wirawan, menjelaskan bahwa Tanah Lot tidak akan mengadakan perayaan dengan kembang api. Keputusan tersebut bukan hanya karena adanya imbauan pemerintah, tetapi juga mempertimbangkan nilai sakral kawasan wisata budaya.
Menurutnya, kawasan Tanah Lot tidak sekadar destinasi wisata, tetapi juga area suci yang memiliki banyak pura. Kesakralan tersebut harus dijaga, sehingga aktivitas yang berpotensi mengganggu ketenangan dan nilai spiritual dihindari.
Menjaga Kesakralan Wisata Budaya
Bali dikenal sebagai destinasi wisata budaya yang menjunjung tinggi nilai adat dan spiritual. Banyak destinasi wisata di Bali berdampingan langsung dengan pura dan kawasan suci. Dalam konteks ini, penggunaan kembang api dinilai tidak selaras dengan upaya pelestarian budaya dan kesakralan tempat.
Pengelola destinasi wisata budaya menilai bahwa perayaan sederhana justru lebih sejalan dengan filosofi hidup masyarakat Bali yang mengedepankan keseimbangan dan keharmonisan. Dengan tidak menyalakan kembang api, kawasan wisata dapat tetap kondusif dan sakral.
Empati terhadap Korban Bencana Nasional
Alasan lain yang mendasari imbauan ini adalah rasa empati terhadap masyarakat yang terdampak bencana di wilayah lain Indonesia. Pemerintah Bali ingin mengajak masyarakat dan wisatawan untuk menjadikan malam pergantian tahun sebagai momen refleksi, bukan sekadar euforia.
Perayaan yang sederhana dinilai sebagai bentuk solidaritas moral. Alih-alih merayakan dengan pesta besar, masyarakat diajak untuk mengekspresikan kepedulian melalui doa dan sikap saling menghormati.
Dampak bagi Pariwisata Bali
Meski ada kekhawatiran bahwa larangan kembang api dapat mengurangi daya tarik wisata, sebagian pelaku pariwisata menilai dampaknya tidak signifikan. Bali tetap memiliki pesona alam, budaya, dan keramahan yang menjadi daya tarik utama, terlepas dari ada atau tidaknya kembang api.
Bahkan, sebagian wisatawan justru menyambut baik kebijakan ini. Mereka menilai perayaan yang lebih tenang memberi pengalaman berbeda, lebih intim, dan lebih bermakna dibandingkan pesta besar yang penuh kebisingan.
Alternatif Perayaan yang Lebih Bermakna
Tanpa kembang api, perayaan Tahun Baru di Bali tetap bisa berlangsung hangat dan berkesan. Banyak hotel dan restoran mengalihkan konsep perayaan ke acara makan malam, pertunjukan seni, atau kegiatan budaya yang lebih ramah lingkungan.
Warga lokal pun dianjurkan merayakan Tahun Baru bersama keluarga atau komunitas terdekat. Kebersamaan sederhana dianggap lebih mencerminkan nilai sosial dan budaya Bali.
Menjaga Ketertiban dan Lingkungan
Selain alasan sosial dan budaya, imbauan ini juga berdampak positif bagi lingkungan. Kembang api sering meninggalkan sampah dan polusi suara yang mengganggu kenyamanan warga dan satwa. Dengan meniadakan kembang api, kebersihan dan ketenangan lingkungan dapat lebih terjaga.
Langkah ini juga sejalan dengan upaya Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan dan menghormati alam.
Penutup: Tahun Baru dengan Makna Berbeda
Imbauan Pemprov Bali untuk tidak menyalakan kembang api menjadi simbol perayaan Tahun Baru yang lebih dewasa dan bermakna. Kesederhanaan, empati, dan penghormatan terhadap budaya lokal menjadi pesan utama yang ingin disampaikan.
Bali menunjukkan bahwa perayaan tidak harus selalu identik dengan kemeriahan berlebihan. Tanpa kembang api, malam Tahun Baru tetap bisa dirayakan dengan ketenangan, refleksi, dan kebersamaan yang justru meninggalkan kesan lebih dalam bagi warga maupun wisatawan.

Cek Juga Artikel Dari Platform radarbandung.web.id
