Assessment Dinsos Bali Dorong Rumah Layak Huni di Buleleng
Assessment Lapangan Demi Bantuan yang Tepat Sasaran
Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang beruntung. Salah satu upaya nyata tersebut dilakukan melalui kegiatan assessment langsung ke lapangan oleh Dinas Sosial Kabupaten Buleleng yang berkolaborasi dengan Dinas Sosial P3A Provinsi Bali.
Kegiatan assessment ini dilaksanakan di wilayah Kecamatan Sukasada pada 24 Desember 2025. Tujuannya adalah memastikan bahwa usulan penerima Program Rumah Layak Huni (RLH) benar-benar berasal dari warga yang membutuhkan, sekaligus memverifikasi kondisi sosial, ekonomi, dan tempat tinggal calon penerima manfaat.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Buleleng, I Putu Kariaman Putra, menegaskan bahwa verifikasi lapangan menjadi kunci utama agar bantuan pemerintah tepat sasaran dan berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Kolaborasi Provinsi dan Kabupaten
Tim dari Dinas Sosial P3A Provinsi Bali yang hadir terdiri dari Sekretaris Dinas, Kepala Bidang Pemberdayaan dan Penanganan Fakir Miskin, serta staf pendamping. Mereka melakukan peninjauan langsung terhadap rumah-rumah warga yang diusulkan untuk mendapatkan bantuan rehabilitasi atau pembangunan rumah layak huni.
“Assessment ini penting untuk memastikan bahwa bantuan benar-benar diterima oleh mereka yang paling membutuhkan. Kami ingin memastikan tidak hanya kondisi fisik rumah, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi keluarga,” ujar perwakilan Dinas Sosial P3A Provinsi Bali.
Kolaborasi lintas pemerintah ini menunjukkan pendekatan terpadu dalam penanganan kemiskinan, di mana data, empati, dan kebijakan berjalan seiring.
Kisah Wayan Srama: Lansia yang Bertahan dalam Keterbatasan
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah rumah Wayan Srama, seorang lansia yang tinggal bersama istrinya di Desa Sambangan. Ia dulunya memiliki dua orang anak, namun keduanya telah meninggal dunia. Saat ini, Wayan Srama menggantungkan hidup sebagai petani kecil, sementara sang istri bekerja sebagai buruh panen bunga.
Meski telah menerima beberapa bantuan sosial seperti PKH, BPNT, dan BLTS Kesra dari Kementerian Sosial, kondisi rumah yang mereka tempati masih jauh dari kata layak. Rumah berdinding sederhana dan minim fasilitas menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan lansia ini dalam menjalani hari tua.
Gusti Putu Sintya: Rumah Sempit untuk Enam Jiwa
Assessment berlanjut ke rumah Gusti Putu Sintya, seorang lansia yang menderita stroke. Ia tinggal bersama enam anggota keluarga dalam satu rumah dengan hanya satu kamar tidur. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan aktivitas sehari-hari, tetapi juga berisiko bagi kesehatan.
Meskipun telah terdaftar sebagai penerima JKN KIS PBI dan BPNT, kondisi hunian yang sempit dan tidak memadai membuat keluarga ini masuk dalam prioritas usulan Program Rumah Layak Huni. Tim assessment mencatat bahwa bantuan perumahan sangat dibutuhkan untuk menjamin kelayakan hidup dan kesehatan keluarga.
Komang Budiawan: Buruh Harian dengan Tiga Anak
Kunjungan terakhir dilakukan ke rumah Komang Budiawan, seorang buruh harian lepas dengan tiga orang anak yang masih di bawah umur. Penghasilan tidak tetap membuat keluarga ini rentan secara ekonomi, terlebih kebutuhan pendidikan dan kesehatan anak-anak yang terus meningkat.
Keluarga Komang Budiawan telah menerima bantuan PKH dan BLTS Kesra, namun kondisi rumah yang kurang layak menjadi perhatian serius tim assessment. Rumah sederhana dengan fasilitas terbatas dinilai membutuhkan intervensi agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman dan sehat.
Harapan Warga dan Dampak Sosial
Salah satu keluarga calon penerima manfaat mengungkapkan rasa syukur dan haru atas perhatian pemerintah daerah. Mereka berharap bantuan Rumah Layak Huni dapat memberikan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami sangat berterima kasih. Semoga dengan rumah yang lebih layak, kami bisa hidup lebih nyaman dan sehat,” ungkap salah satu warga.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik rumah, program ini diharapkan mampu meningkatkan martabat dan rasa aman warga kurang beruntung, sekaligus menjadi fondasi untuk memperbaiki kualitas hidup secara menyeluruh.
Lebih dari Sekadar Rumah
Selain mengusulkan program RLH, kegiatan assessment ini juga dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kebutuhan lain, seperti bantuan biaya pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang masuk kategori desil 1–5. Langkah ini menunjukkan bahwa penanganan kemiskinan dilakukan secara komprehensif, tidak parsial.
Dinas Sosial Kabupaten Buleleng menegaskan bahwa sinergi dengan Dinas Sosial P3A Provinsi Bali akan terus diperkuat guna memastikan program perlindungan sosial berjalan efektif dan berkelanjutan.
Komitmen Berkelanjutan
Assessment ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat kurang beruntung. Dengan pendekatan langsung ke lapangan, pemerintah tidak hanya mengandalkan data administratif, tetapi juga melihat realitas kehidupan warga secara nyata.
Ke depan, sinergi antarinstansi diharapkan mampu mempercepat penanganan masalah sosial, memastikan bantuan tepat sasaran, dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih layak bagi seluruh masyarakat Kabupaten Buleleng.
Baca Juga : Relokasi Warga Tesso Nilo Dimulai, Negara Pulihkan Kawasan Konservasi
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritabumi

