Sanggar Sangging Bali, Rindu Kampung yang Berbuah Rupiah
baliutama.web.id Di tengah hiruk pikuk kawasan Bekasi Utara, terdapat sebuah sudut yang menghadirkan nuansa berbeda. Ornamen ukiran khas Bali berdiri kokoh menghiasi bangunan, menghadirkan atmosfer Pulau Dewata jauh dari tanah kelahirannya. Tempat itu dikenal sebagai Sanggar Sangging Bali, sebuah sanggar seni yang menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus sumber penghidupan bagi para perajin.
Sanggar ini didirikan oleh Wayan Suriarta, seorang perajin ukir asal Bali yang telah lama menetap di Bekasi. Baginya, seni bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari identitas dan pengikat batin terhadap kampung halaman yang selalu dirindukan.
Melalui Sanggar Sangging Bali, kerinduan tersebut menjelma menjadi karya yang bernilai budaya sekaligus bernilai ekonomi.
Berawal dari Lingkungan Pengrajin
Kecintaan Wayan Suriarta terhadap seni ukir tumbuh sejak usia muda. Ia berasal dari lingkungan kampung pengrajin di Bali, tempat seni menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Sejak masih bersekolah, ia telah terbiasa memegang pahat dan kayu. Keterampilan itu diwariskan secara turun-temurun, bukan melalui pendidikan formal semata, melainkan melalui praktik langsung dan kedekatan dengan tradisi.
Pengalaman tersebut membentuk karakter Wayan sebagai pengrajin yang menjunjung tinggi ketelitian dan makna filosofis di balik setiap ukiran.
Merantau dan Membawa Identitas Budaya
Awal perantauan Wayan ke Bekasi dimulai pada era awal tahun 2000-an. Keputusan meninggalkan Bali bukan hal mudah, namun kebutuhan hidup mendorongnya untuk mencari peluang di luar daerah asal.
Meski jauh dari kampung halaman, ia tidak pernah meninggalkan seni ukir Bali. Justru di tanah rantau itulah ia menemukan ruang baru untuk memperkenalkan budaya Pulau Dewata kepada masyarakat luas.
Ukiran Bali yang sarat makna spiritual dan estetika menjadi ciri khas yang membedakan karyanya dari ornamen daerah lain.
Lahirnya Nama Sanggar Sangging Bali
Nama Sanggar Sangging Bali resmi digunakan pada tahun 2013. Nama tersebut terinspirasi dari Pura Sanging di Karangasem, Bali, tempat yang memiliki makna mendalam bagi sang pendiri.
Pemilihan nama bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan terhadap akar budaya yang menjadi sumber inspirasi. Dengan nama itu, Wayan berharap nilai-nilai seni dan spiritual Bali tetap melekat dalam setiap karya yang dihasilkan.
Sanggar pun menjadi ruang yang tidak hanya memproduksi ornamen, tetapi juga menjaga roh budaya Bali.
Menghiasi Rumah hingga Tempat Ibadah
Seiring waktu, karya Sanggar Sangging Bali semakin dikenal. Pesanan tidak hanya datang dari warga sekitar, tetapi juga dari berbagai daerah di luar Pulau Bali.
Sanggar ini dipercaya mengerjakan ornamen rumah bernuansa Bali, gapura, hingga bangunan pura dan tempat sembahyangan umat Hindu. Karya-karya mereka tersebar di wilayah seperti Cilacap, Bandung, Lembang, hingga Lamongan.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan keaslian ukiran yang dihasilkan mampu bersaing meski dibuat jauh dari tanah asalnya.
Cikal Bakal Kampung Bali di Bekasi
Keberadaan ornamen Bali yang menghiasi sejumlah rumah di kawasan tersebut perlahan membentuk identitas lingkungan. Nuansa Bali yang kental akhirnya membuat kawasan itu dikenal sebagai Kampung Bali di Bekasi Utara.
Keunikan ini menarik perhatian banyak orang, baik warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Kampung Bali menjadi contoh bagaimana budaya dapat tumbuh dan beradaptasi di lingkungan baru tanpa kehilangan jati diri.
Sanggar Sangging Bali menjadi salah satu titik penting dalam terbentuknya identitas tersebut.
Memberdayakan Pengrajin Lokal
Saat ini, Sanggar Sangging Bali mempekerjakan tujuh orang pengrajin. Mereka bekerja sama dalam proses pembuatan ukiran, mulai dari perancangan hingga penyelesaian akhir.
Setiap pengrajin memiliki peran masing-masing, menciptakan proses kerja yang terstruktur dan efisien. Keberadaan sanggar memberikan lapangan pekerjaan sekaligus ruang belajar bagi mereka yang ingin mendalami seni ukir Bali.
Pemberdayaan ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi.
Proses Produksi yang Terjaga
Seluruh proses ukiran dilakukan di bengkel sanggar sebelum dipasang di lokasi pemesan. Metode ini diterapkan untuk menjaga kerapian lingkungan sekaligus memastikan kualitas karya tetap terkontrol.
Dengan pengerjaan terpusat, detail ukiran dapat disempurnakan tanpa gangguan. Setelah selesai, ornamen baru dipasang di tempat tujuan sesuai kebutuhan pelanggan.
Pendekatan ini mencerminkan profesionalisme sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Seni sebagai Penghubung Rasa Rindu
Bagi Wayan Suriarta, setiap pahatan memiliki makna emosional. Ukiran menjadi cara menyalurkan kerinduan terhadap Bali, tanah kelahiran yang membentuk jati dirinya.
Melalui seni, ia tetap merasa dekat dengan kampung halaman meski berada ratusan kilometer jauhnya. Rasa rindu itu tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi juga energi untuk terus berkarya.
Seni ukir Bali pun hidup dan berkembang, meski jauh dari tempat asalnya.
Menjaga Warisan di Tengah Modernisasi
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, menjaga seni tradisional bukan perkara mudah. Namun Sanggar Sangging Bali membuktikan bahwa warisan budaya tetap memiliki tempat.
Permintaan terhadap ornamen bernuansa tradisional menunjukkan bahwa masyarakat masih menghargai nilai estetika dan filosofi budaya.
Sanggar ini menjadi contoh bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan, melainkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Penutup
Sanggar Sangging Bali di Bekasi Utara menjadi bukti bahwa rindu kampung halaman dapat diubah menjadi karya yang bernilai. Melalui tangan-tangan terampil para pengrajin, seni ukir Bali tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi.
Lebih dari sekadar tempat produksi, sanggar ini adalah ruang pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan jembatan antara tradisi dan kehidupan modern. Dari kerinduan lahirlah kreativitas, dan dari kreativitas tercipta penghidupan yang bermakna.

Cek Juga Artikel Dari Platform hotviralnews.web.id
