Belajar Moderasi Beragama di Pujamandala Bali
Pendahuluan: Moderasi Beragama dalam Praktik Nyata
Moderasi beragama bukan sekadar konsep normatif yang tertulis dalam dokumen kebijakan atau disampaikan dalam ruang kelas. Nilai tersebut perlu dipelajari dan dialami secara langsung agar benar-benar dipahami serta dihayati. Inilah semangat yang mendasari kunjungan rombongan kelas XI MAN 1 Yogyakarta ke Kawasan Pujamandala, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan studi budaya.
Kunjungan ini dirancang sebagai sarana pembelajaran kontekstual tentang toleransi, kerukunan, dan kehidupan beragama dalam masyarakat multikultural. Di tengah keberagaman agama dan keyakinan yang menjadi realitas Indonesia, Pujamandala hadir sebagai ruang simbolik sekaligus nyata tentang bagaimana perbedaan dapat dirawat dalam suasana damai dan saling menghormati.
Pujamandala sebagai Simbol Kerukunan Antarumat Beragama
Pujamandala dikenal luas sebagai kawasan yang merepresentasikan kerukunan antarumat beragama. Di satu kawasan yang sama, berdiri berdampingan lima rumah ibadah dari agama yang berbeda, yaitu masjid, gereja Katolik, gereja Protestan, pura, dan vihara. Keberadaan rumah ibadah ini tidak hanya menjadi simbol visual toleransi, tetapi juga mencerminkan praktik kehidupan sosial yang harmonis.
Bagi murid MAN 1 Yogyakarta, melihat langsung rumah-rumah ibadah tersebut berdiri sejajar memberikan kesan mendalam. Pujamandala menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi sumber konflik. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan sosial ketika dilandasi oleh sikap saling menghormati dan kesadaran akan nilai kemanusiaan yang universal.
Keunikan Pujamandala terletak pada kesepakatan bersama masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menjaga harmoni. Setiap aktivitas keagamaan berjalan berdampingan tanpa saling mengganggu, bahkan dalam momen-momen besar keagamaan yang membutuhkan koordinasi dan toleransi tingkat tinggi.
Pembelajaran Karakter Melalui Pengalaman Langsung
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kunjungan ke Pujamandala memiliki makna strategis dalam pembentukan karakter murid. Menurutnya, pembelajaran tentang moderasi beragama akan lebih efektif ketika murid melihat contoh nyata di lapangan, bukan hanya mendengarnya sebagai teori.
Melalui kunjungan ini, murid tidak hanya memahami toleransi sebagai konsep abstrak, tetapi menyaksikan langsung bagaimana kerja sama lintas iman terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai seperti empati, penghormatan, dan tanggung jawab sosial dapat dirasakan secara konkret.
Pengalaman ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran bahwa perbedaan agama adalah realitas yang harus disikapi dengan bijak, bukan dihindari atau dipertentangkan.
Moderasi Beragama dalam Konteks Kebangsaan
Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi pilar penting dalam menjaga persatuan nasional. Pujamandala memberikan gambaran bagaimana nilai kebangsaan dan nilai keagamaan dapat berjalan seiring tanpa saling meniadakan.
Dalam konteks ini, murid MAN 1 Yogyakarta diajak memahami bahwa menjadi pribadi beriman tidak berarti menutup diri dari perbedaan. Sebaliknya, iman yang dewasa justru tercermin dari kemampuan menghargai keyakinan orang lain.
Pembelajaran ini relevan bagi generasi muda yang hidup di era digital, di mana narasi intoleransi dan polarisasi mudah tersebar. Dengan melihat langsung praktik kerukunan, murid dibekali filter nilai untuk menyikapi informasi secara kritis dan bertanggung jawab.
Pujamandala sebagai Ruang Belajar Kontekstual
Wakil Kepala Bidang Humas MAN 1 Yogyakarta, Wakhid Hasyim, S.Pd.I., M.A., menekankan bahwa Pujamandala merupakan ruang belajar yang sangat kontekstual. Menurutnya, pembelajaran di kawasan ini membantu murid memahami bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang membutuhkan komitmen bersama.
Melalui interaksi dan pengamatan langsung, murid belajar bahwa kerukunan tidak terjadi dengan sendirinya. Ia dibangun melalui komunikasi, saling pengertian, dan kesediaan untuk bekerja sama. Pujamandala menjadi contoh bagaimana nilai-nilai tersebut diimplementasikan secara konsisten.
Pengalaman ini diharapkan dapat membentuk sikap inklusif murid dalam kehidupan sosial yang lebih luas, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, maupun di ruang digital.
Refleksi Murid: Dari Bali untuk Kehidupan Sehari-hari
Bagi para murid, kunjungan ke Pujamandala menjadi momen reflektif. Banyak dari mereka menyadari bahwa perbedaan yang selama ini dipandang sebagai potensi konflik justru dapat menjadi sumber kekuatan jika dikelola dengan bijak.
Melihat langsung rumah ibadah yang berdampingan mengajarkan bahwa harmoni bukan sesuatu yang mustahil. Nilai ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menghargai perbedaan pendapat, latar belakang, hingga keyakinan di lingkungan sekitar.
Refleksi ini penting untuk membentuk generasi muda yang tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah, serta mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat.
Pendidikan Moderasi Beragama untuk Generasi Masa Depan
Kegiatan studi budaya ke Pujamandala menegaskan pentingnya pendidikan moderasi beragama yang berbasis pengalaman. Dengan pendekatan ini, nilai toleransi tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi juga diinternalisasi sebagai sikap hidup.
MAN 1 Yogyakarta melalui kegiatan ini menunjukkan komitmennya dalam mencetak peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga matang secara sosial dan spiritual. Pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi yang mampu menjaga persatuan dalam keberagaman.
Penutup: Pujamandala sebagai Teladan Harmoni
Pujamandala bukan sekadar kawasan rumah ibadah, melainkan simbol hidupnya nilai toleransi dan moderasi beragama di Indonesia. Bagi murid kelas XI MAN 1 Yogyakarta, kunjungan ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan dalam damai.
Pengalaman belajar di Pujamandala diharapkan menjadi bekal bagi murid untuk menumbuhkan sikap inklusif, empati, dan tanggung jawab sebagai generasi muda. Dari Bali, mereka belajar bahwa menjaga kerukunan bukan hanya tugas negara atau tokoh agama, tetapi tanggung jawab setiap warga bangsa.
Baca Juga : Murid MAN 1 Yogyakarta Dalami Filosofi Budaya Bali di GWK
Cek Juga Artikel Dari Platform : rumahjurnal

