Murid MAN 1 Yogyakarta Dalami Filosofi Budaya Bali di GWK
Pendahuluan: Belajar Budaya Melalui Simbol Bangsa
Studi budaya tidak hanya tentang melihat tradisi secara kasat mata, tetapi juga memahami makna dan filosofi yang terkandung di baliknya. Inilah yang menjadi tujuan kunjungan murid kelas XI MAN 1 Yogyakarta ke kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), Kabupaten Badung, Bali. Kegiatan ini merupakan rangkaian lanjutan dari program Studi Budaya ke Bali yang dirancang untuk memperkaya wawasan kebangsaan serta memperdalam pemahaman murid tentang nilai-nilai luhur budaya Nusantara.
Melalui kunjungan ke GWK, para murid diajak untuk membaca budaya bukan sekadar sebagai objek wisata, melainkan sebagai teks kehidupan yang sarat makna. GWK hadir sebagai simbol bagaimana budaya lokal Bali mampu berdialog dengan identitas nasional Indonesia, bahkan tampil di panggung global tanpa kehilangan jati dirinya.
Garuda Wisnu Kencana sebagai Simbol Filosofis
Patung Garuda Wisnu Kencana merupakan salah satu karya monumental terbesar di Indonesia. Patung ini menggambarkan Dewa Wisnu sebagai pemelihara kehidupan yang menunggangi Garuda, makhluk mitologis yang melambangkan kesetiaan, keberanian, dan pengabdian. Bagi masyarakat Bali, Wisnu bukan sekadar figur mitologi, tetapi simbol keseimbangan dan tanggung jawab kosmis dalam menjaga kehidupan.
Bagi murid MAN 1 Yogyakarta, penjelasan tentang simbol ini membuka perspektif baru bahwa seni rupa tidak pernah berdiri sendiri. Setiap detail patung, mulai dari ekspresi, posisi tubuh, hingga relasi antara Wisnu dan Garuda, mengandung pesan filosofis tentang hubungan manusia dengan alam dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.
Garuda, yang juga menjadi lambang negara Indonesia, memperkuat pesan persatuan dalam keberagaman. Melalui GWK, murid dapat melihat bagaimana simbol nasional tersebut berakar dari kebudayaan lokal, lalu tumbuh menjadi identitas bersama bangsa.
Ruang Seni sebagai Media Pendidikan
GWK bukan hanya lokasi berdirinya patung raksasa, tetapi juga kawasan budaya yang hidup. Di dalamnya terdapat ruang seni, panggung pertunjukan, serta narasi sejarah yang dirancang untuk mengedukasi pengunjung. Bagi murid MAN 1 Yogyakarta, kawasan ini menjadi ruang belajar terbuka yang mempertemukan seni, sejarah, dan nilai kebangsaan.
Berbeda dengan pembelajaran di kelas, pengalaman berada langsung di ruang budaya memberikan kesan yang lebih mendalam. Murid tidak hanya menerima informasi, tetapi juga merasakan atmosfer yang dibangun oleh karya seni dan lingkungan sekitarnya. Hal ini membantu mereka memahami bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sesuatu yang terus hidup dan relevan dengan masa kini.
Penguatan Wawasan Kebangsaan
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa kunjungan ke GWK memiliki dimensi kebangsaan yang kuat. Menurutnya, ikon seperti Garuda Wisnu Kencana menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai persatuan dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia kepada generasi muda.
GWK memperlihatkan bagaimana budaya Bali tetap teguh pada akar tradisinya, sekaligus mampu menjadi bagian dari identitas nasional. Murid diajak untuk melihat bahwa keberagaman budaya bukanlah penghalang persatuan, melainkan fondasi yang memperkaya identitas bangsa.
Melalui penguatan wawasan kebangsaan ini, murid diharapkan memiliki sikap inklusif dan rasa tanggung jawab sebagai warga negara yang menghargai perbedaan.
Budaya Lokal dalam Dialog Global
Salah satu pelajaran penting dari kunjungan ke GWK adalah bagaimana budaya lokal dapat tampil percaya diri di ruang global. GWK dikenal secara internasional dan menjadi destinasi wisata dunia, namun tetap berpijak pada nilai-nilai lokal Bali.
Hal ini memberi pesan kuat kepada murid bahwa globalisasi tidak selalu berarti homogenisasi. Budaya lokal justru dapat menjadi kekuatan utama untuk tampil di tingkat dunia jika dikelola dengan baik dan tetap menjaga esensi nilai tradisionalnya.
Bagi generasi muda, pemahaman ini penting agar mereka tidak melihat modernitas sebagai ancaman bagi budaya, melainkan sebagai ruang dialog yang dapat memperkaya identitas.
Refleksi Murid: Seni, Nilai, dan Identitas
Banyak murid merasakan bahwa kunjungan ke GWK memberikan pengalaman reflektif. Mereka tidak hanya mengagumi kemegahan patung, tetapi juga merenungkan pesan moral dan filosofis yang disampaikan. Garuda sebagai simbol pengabdian mengingatkan pentingnya tanggung jawab, sementara Wisnu sebagai pemelihara kehidupan menegaskan nilai keseimbangan dan kepedulian.
Refleksi ini mendorong murid untuk melihat peran mereka sebagai generasi muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Mereka diajak berpikir bahwa mencintai bangsa tidak hanya diwujudkan melalui simbol, tetapi juga melalui sikap sehari-hari seperti toleransi, disiplin, dan kepedulian terhadap sesama.
Pendidikan Kontekstual dan Pembentukan Karakter
Kunjungan ke GWK menegaskan pentingnya pendidikan kontekstual dalam pembentukan karakter murid. Dengan belajar langsung dari simbol budaya, murid memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan bermakna. Pendidikan tidak lagi berhenti pada hafalan, tetapi berkembang menjadi proses refleksi dan internalisasi nilai.
MAN 1 Yogyakarta melalui kegiatan studi budaya ini menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran holistik. Murid tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga nilai budaya dan kebangsaan yang menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Penutup: GWK sebagai Cermin Nilai Bangsa
Garuda Wisnu Kencana bukan sekadar monumen megah, melainkan cermin nilai-nilai budaya dan kebangsaan Indonesia. Bagi murid MAN 1 Yogyakarta, kunjungan ini menjadi pengalaman belajar yang mempertemukan seni, filosofi, dan identitas nasional dalam satu ruang.
Melalui GWK, murid diajak memahami bahwa budaya adalah sumber nilai yang membentuk karakter dan cara pandang hidup. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk tumbuh sebagai generasi muda yang berakar pada budaya, berpikiran terbuka, dan memiliki semangat kebangsaan yang kuat.
Baca Juga : Belajar dari Panglipuran, Murid MAN 1 Yogyakarta
Cek Juga Artikel Dari Platform : beritabandar

