Wisatawan ke Bali Turun, PHRI Sebut Momentum Naik Kelas
Kunjungan wisatawan ke Bali sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan yang cukup terasa. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali yang dielaborasi bersama Angkasa Pura menunjukkan total pergerakan wisatawan mencapai 15.998.579 kunjungan. Angka tersebut turun 2,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatat 16.454.146 kunjungan.
Penurunan ini memunculkan beragam respons dari pelaku industri pariwisata. Namun, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai kondisi ini tidak bisa dibaca secara hitam putih. Bagi pelaku industri, data tersebut justru menjadi sinyal penting untuk melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas pariwisata Bali secara menyeluruh.
Penurunan Terasa di Akhir Tahun
Jika ditelisik lebih jauh, penurunan kunjungan wisatawan paling signifikan terjadi pada periode akhir tahun. Data sementara Angkasa Pura I per 1–23 Desember 2025 mencatat hanya 839.155 wisatawan yang masuk ke Bali melalui bandara.
Jumlah ini merosot hingga 43,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang mencapai 1.492.237 wisatawan. Penurunan tajam di musim liburan ini menjadi perhatian serius, mengingat akhir tahun biasanya menjadi periode puncak kunjungan wisatawan ke Pulau Dewata.
Pelaku usaha perhotelan dan restoran merasakan dampaknya secara langsung, terutama dari sisi tingkat hunian dan perputaran ekonomi lokal. Meski demikian, sebagian pelaku industri memilih melihat fenomena ini secara lebih jernih dan jangka panjang.
Dinamika Wisman dan Wisnus Berbeda Arah
Menariknya, di balik penurunan total kunjungan, komposisi wisatawan menunjukkan dinamika yang berbeda. Wisatawan mancanegara (wisman) justru mengalami peningkatan. Sepanjang 2025, jumlah wisman naik 8,4 persen, dari 6.333.360 kunjungan pada 2024 menjadi 6.864.836 kunjungan.
Sebaliknya, penurunan lebih besar justru terjadi pada segmen wisatawan Nusantara (wisnus). Jumlah wisnus turun 9,8 persen, dari 10.120.786 kunjungan pada 2024 menjadi 9.133.743 kunjungan pada 2025.
Data ini menunjukkan bahwa pasar domestik mengalami pergeseran preferensi perjalanan. Faktor jarak, biaya, dan fleksibilitas waktu menjadi pertimbangan utama bagi wisnus dalam menentukan destinasi liburan.
Fenomena Short Haul Traveler
Sekretaris BPC PHRI Badung, Gede Ricky Sukarta, meminta semua pihak tidak merespons data ini secara reaktif. Menurutnya, perubahan pola perjalanan wisatawan perlu dipahami secara proporsional dan kontekstual.
Ia menjelaskan bahwa wisnus saat ini banyak didominasi oleh short haul traveler. Kelompok wisatawan ini cenderung memilih perjalanan jarak pendek, umumnya di bawah tiga jam penerbangan atau sekitar 800 kilometer.
“Wisnus saat ini memilih destinasi yang dekat, singkat, dan praktis. Kota-kota seperti Yogyakarta menjadi pilihan karena mudah dijangkau dan fleksibel,” ujarnya.
Fenomena ini, kata Ricky, bukan hal baru dalam industri pariwisata. Pergeseran destinasi kerap terjadi secara siklik dan bersifat jangka pendek.
Pergeseran Destinasi Bersifat Siklik
Ricky mengingatkan bahwa Bali pernah mengalami situasi serupa di masa lalu. Salah satu contohnya terjadi ketika Banyuwangi mengalami lonjakan kunjungan wisatawan beberapa tahun lalu.
“Saat Banyuwangi berkembang pesat, ada pergeseran minat wisatawan. Tapi itu tidak permanen. Tren seperti ini akan berputar kembali,” jelasnya.
Menurutnya, munculnya destinasi alternatif justru menunjukkan kemajuan pariwisata nasional secara keseluruhan. Bali tidak bisa terus berada di posisi nyaman sebagai satu-satunya destinasi unggulan.
Dalam konteks ini, penurunan kunjungan bukanlah ancaman langsung terhadap eksistensi pariwisata Bali, melainkan dinamika pasar yang wajar.
Momentum Evaluasi dan Pembenahan
PHRI menilai kondisi ini sebagai momentum untuk berbenah. Ricky menegaskan bahwa Bali terlalu lama berada di comfort zone sebagai destinasi utama Indonesia.
“Ini bukan ancaman. Justru momentum untuk evaluasi menyeluruh,” katanya.
Ia menyoroti pentingnya penataan ulang kualitas layanan, pengelolaan lingkungan, serta penguatan sumber daya manusia di sektor pariwisata. Menurutnya, daya saing Bali ke depan tidak bisa hanya mengandalkan popularitas, tetapi harus bertumpu pada kualitas dan keberlanjutan.
Nilai utama pariwisata Bali seperti budaya, keramahtamahan, dan harmoni dengan lingkungan perlu kembali menjadi pijakan utama dalam pengembangan destinasi.
Pariwisata Berkualitas dan Berkelas
Ricky menegaskan bahwa penurunan jangka pendek bukanlah kegagalan. Sebaliknya, kondisi ini merupakan alarm sehat bagi industri untuk melakukan introspeksi.
“Bali tidak sedang kalah. Bali sedang diuji untuk naik kelas,” tegasnya.
Ia meyakini bahwa ketika tren perjalanan kembali berputar, Bali akan kembali menjadi rujukan utama wisatawan. Namun, rujukan tersebut diharapkan bukan lagi karena faktor murah, melainkan karena kualitas pengalaman yang ditawarkan.
Pariwisata berkelas, menurut PHRI, harus mampu memberikan pengalaman yang autentik, nyaman, dan berkelanjutan bagi wisatawan, sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Penutup: Tantangan Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Penurunan kunjungan wisatawan ke Bali sepanjang 2025 menjadi tantangan sekaligus peluang. Data ini memberikan gambaran bahwa industri pariwisata perlu terus beradaptasi dengan perubahan perilaku pasar.
Dengan evaluasi menyeluruh, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan nilai budaya dan keberlanjutan, Bali memiliki peluang besar untuk naik kelas sebagai destinasi global. Tantangan ini menjadi ujian penting untuk memastikan pariwisata Bali tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dengan fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Baca Juga : Persoalan Lingkungan Bali Butuh Solusi Nyata dan Terukur
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : seputardigital

